Rabu, 11 November 2009

jasa konsultasi skripsi ditolak atau disykuri

Jasa konsultasi skipsi tumbuh bak jamur. semula jasa semacam itu diberikan secara perseorangan dan diam-diam antara teman.
Layanan meningkat menjadi jasa pemrosesan data statistik dengan program komputer. kemudian meningkat menjadi jasa menginterpretasi dan menuliskan hasil. lama kelamaan, jasa meningkat sampai memilih judu,menyediakan data, bahkan sampai meembuatsecara penuh suatu skipsi.
Usaha ini tentu mempunyai modal dasar yaitu kumpulan skripsi yang mencakupi berbagai bidang studi dan topik, jurnal (kopian atau asli), dan basis data.
Peminat tinggal mengunjungi www.skirpsiekonomi.com dan dapat membeli skripsidengan judul apapun dengan harga sekitar Rp. 750.000 per skir[si dan skirpsi tadi diantar kerumah.
Bisnis ini semakin menggiurkan karena banyak pejabat, bekaspejabar, eksekutif, atau pebisnis bahkan selebrities yang mengambil program S3 yang sebenarnya tidak punya waktu untuk motivasi belajar umtuk merenung atau tidak mempunyai kemampuan menulis, sehingga tidak ada cara lain kecuali memanfaatkan jasa semacam itu.
Jasa yang diberikan antara lain adalah sekadar memfotocopykan skirpsi yang sesuai dengan topik sampai membuat skirpsi tersebut. (mengetikan proposal, menyarankan jawaban atas pertanyaan pembimbing, merevisi sampai skirpsi disetujui, menjilidkan, dan layihan ujian pendadaran). Beberapa pemberi jasa memberi garansi "DIJAMIN SAMPAI LULUS."
Konon tarif untuk pembuatan skirpsi berkisar antara Rp. 1 sampai Rp. 1,5 juta. Untuk tesis, harga dapat mencapai Rp. 2,5 juta.
Hal ini merupakan daya tarik menjamurnya bisnis ini.
Seorang pengamat pendidikan menyatakan bahwa fenomena ini merupakan tragedi pendidikan nasional kalau tidak dicermati dan dikendalikan. dia khawatir, jangan-jangan nanti akan timbul jasa pembuatan pekerjaan rumah (atau tugas sekolah lain)
Ketika ditanya apakah jasa semcam ini tidak menimbulkan hal yang kurang baikdan etis dalam konteks pendidikan nasional dan tujuan penulisan skripsi, seorang pemberi jasa yang profesional mengatakan : " Nyatanya banyka yang datang ke saya dan tidak ada peraturan yang melarang.
Seorang pengguna jasa yang telah lulus sebagai sarjana mengakui : " saya memang menggunakan jasa konsultan karena mudah ditemui dan dihubungi.
mahasiswa pengguna jasa yang masih menyusun skirpsi mengatakan : " Mengapa harus repot-repot menulis skripsi. yang penting jadi dan lulus karena toh skripsi tidak dibutuhkan dalam pekerjaan.
Para dosen yang dimintai tanggapan mengenai hal ini menyatakan bahwa mereka yang tidak mempunyai cara untuk mengecek apakah skripsi merupakan hasil pekerjaan menyontek atau hasil pembimbingan komersial. pokoknya kalau mahasiswa dapay menjelaskan dengan baik apa yang ditulisnya para dosen sudah cukup puas.
Pihak Direktorat Jendral pendidikan tinggi atau yang berwenang sekalipun masih bergeming mengenai hal ini. mungkin fenomena ini masih dianggap wajar sehingga mereka tidak perlu gegabah menangani masalah ini. Mereka tampaknya bersikap " wait and see. "

Tidak ada komentar:

Posting Komentar